Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare melanjutkan rangkaian International Guest Lecture (IGLoPAS) sesi kedua pada Rabu malam, 10 Desember 2025, pukul 20.00 WITA. Acara bertema “AI Era and the Future of Islamic Society: Ethics, Moderation, Law, and Sustainable Scholarship” ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung via YouTube, terbuka untuk umum meskipun wajib bagi seluruh mahasiswa pascasarjana IAIN Parepare.
Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Parepare, Dr. Agus Muchsin, M.Ag., yang menyampaikan sambutan pembukaan. Beliau menekankan pentingnya pendekatan moderasi (wasathiyah) dalam menghadapi era kecerdasan buatan (AI), serta perlunya keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan nilai-nilai etika Islam. Acara dimoderatori oleh Dr. Hamzah, S.S., M.Pd.I., dosen Pascasarjana IAIN Parepare.

Dua narasumber utama hadir dalam sesi ini. Pertama, Prof. Dr. H. Salih Ahmad Abdul Wahhab Abdul Qawwiy, Lc., M.A., Wakil Dekan Fakultas Ilmu-ilmu Islam untuk Mahasiswa Internasional Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Beliau menyampaikan materi dalam bahasa Arab tentang moderasi beragama (wasathiyah Islamiyah) di era AI. Prof. Salih menekankan sikap wasathiyah sebagai pendekatan utama: verifikasi sebelum mempercayai (attahaqqu qabla al-i'timad), pemahaman sebelum pemanfaatan (al-wuquf qabla al-istifadah), serta perlindungan sebelum penggunaan (al-himayah qabla al-istimal). Beliau memperingatkan risiko AI seperti ketergantungan berlebih yang menyebabkan kemalasan intelektual, dehumanisasi, serta potensi penyebaran informasi salah. Namun, AI dapat dimanfaatkan secara positif jika diarahkan dengan etika syariat, seperti dalam pendidikan dan riset, tanpa menggantikan peran manusia.

Narasumber kedua adalah Dr. H. Afifuddin Harisah, Lc., M.Ag., dosen Program Magister Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Beliau membahas inklusivisme AI dalam etika pengembangan pendidikan agama Islam berbasis digital. Dr. Afifuddin menyoroti AI sebagai pedang bermata dua: peluang untuk personalisasi pembelajaran, simulasi dialog lintas iman, dan penguatan nilai toleransi; namun juga tantangan seperti bias algoritma yang memperkuat stereotip, bullying digital, serta dehumanisasi interaksi manusia. Beliau mengusulkan paradigma inklusivisme sebagai solusi, yaitu sikap menghargai perbedaan, mendorong dialog, dan mengutamakan nilai kemanusiaan universal. Guru berperan sebagai penjaga etika, penyimbang informasi AI, dan teladan dalam penggunaan teknologi, agar AI mendukung moderasi beragama tanpa menggantikan humanitas.
Sesi tanya jawab berlangsung interaktif, dengan peserta dari berbagai daerah seperti NTT menyampaikan pengalaman pribadi tentang moderasi beragama di lingkungan minoritas. Narasumber menjawab secara mendalam, menekankan peran guru sebagai jembatan kebaikan, verifikasi informasi AI, serta integrasi nilai wasathiyah dan inklusivisme dalam pembelajaran digital. Acara berakhir dengan penyerahan sertifikat simbolis secara daring kepada narasumber, disertai ucapan terima kasih dari panitia atas kontribusi ilmu yang mencerahkan.

Rangkaian IGLoPAS ini menunjukkan komitmen Pascasarjana IAIN Parepare dalam menghadirkan diskusi akademik internasional yang relevan dengan tantangan kontemporer, khususnya integrasi teknologi AI dengan nilai-nilai Islam yang moderat dan inklusif.