Pascasarjana IAIN Parepare – Jurnal Al-Iftah: Journal of Islamic Studies and Society Pascasarjana IAIN Parepare semakin menunjukkan keseriusannya untuk naik kelas dalam kancah publikasi ilmiah. Hal ini ditegaskan dalam pertemuan tim pengelola jurnal yang digelar di Karajae, Senin (6/4/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting dalam merumuskan strategi peningkatan akreditasi jurnal ke level yang lebih tinggi. Selain itu, forum ini juga diarahkan untuk memperkuat kontribusi Al-Iftah dalam pengembangan kajian Islam dan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Editor in Chief sekaligus anggota tim pengelola, Saidin Hamzah, menegaskan komitmen tim dalam mendorong kemajuan jurnal. “Kami berharap jurnal Al-Iftah dapat naik ke level yang lebih baik dari yang sudah di capaian saat ini. Ini bukan hanya target, tetapi komitmen bersama,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan tekad kolektif tim redaksi untuk terus meningkatkan kualitas, mulai dari tata kelola jurnal, mutu substansi artikel, hingga visibilitas publikasi di tingkat global.
Sebagai jurnal ilmiah yang terbit dua kali dalam setahun (Juni dan Desember), Al-Iftah mengusung sistem peer-reviewed dengan cakupan kajian yang luas. Fokusnya meliputi studi Islam, pendidikan Islam, hukum Islam, komunikasi dan penyiaran Islam, ekonomi syariah, hingga berbagai isu sosial kemasyarakatan yang beririsan dengan nilai-nilai keislaman. Publikasi artikel dalam bahasa Inggris dan Arab turut memperluas jangkauan pembaca dan kontributor dari berbagai negara.
Saat ini, Al-Iftah telah mengantongi akreditasi SINTA 4 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Capaian tersebut diraih pada Maret 2025 melalui kerja keras tim pengelola, yang terdiri dari Fikri, Ahmad Yani, Raodhatul Jannah, dan Saidin Hamzah. Tidak berhenti di situ, upaya menuju pengindeksan Scopus juga tengah dipersiapkan secara serius.
Bagi tim pengelola, peningkatan akreditasi bukan sekadar capaian administratif, melainkan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem akademik. Dengan akreditasi yang lebih tinggi, Al-Iftah diharapkan mampu menarik lebih banyak penulis berkualitas, baik dari kalangan dosen, mahasiswa pascasarjana, maupun peneliti eksternal. Selain itu, standar seleksi artikel akan semakin ketat sehingga kualitas publikasi semakin terjaga dan berdampak luas.
Saidin Hamzah menambahkan, langkah ini selaras dengan visi Pascasarjana IAIN Parepare dalam membangun tradisi akademik yang unggul dan berdaya saing global. “Kami terus berupaya meningkatkan standar editorial, memperluas jaringan reviewer internasional, serta menghadirkan kajian yang relevan dengan dinamika kontemporer,” jelasnya.
Dengan semangat “siap naik level”, Al-Iftah diharapkan tidak hanya menjadi ruang publikasi bagi civitas akademika IAIN Parepare, tetapi juga tampil sebagai referensi penting dalam studi Islam dan masyarakat di Indonesia. Proses pengajuan re-akreditasi kini tengah dipersiapkan secara matang dan diyakini akan menjadi tonggak baru bagi kemajuan jurnal ini di masa depan.